Berita Terbaru
recent

Kisah Menyedikan Wanita Yang Dipaksa Nikah Usia Muda


Berita seks - Menikah pada usia sangat muda sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh perempuan bernama Alemtsahye Gebrekidan. Bayangkan, pada usianya yang baru berumur 12 tahun, dia dipaksa menikah oleh orangtuanya dengan anak laki-laki berusia 18 tahun dari desanya di Provinsi Tigris, Ethiopia Utara, Afrika tersebut.Agen sakong

Ibuku bilang kamu harus menikah. Aku terkejut dan langsung menangis tergesah-gesah, tetapi aku tidak memberi tahu orangtuaku,ungkap Ameltsahye emerlin yang  mengenang masa kecilnya, seperti dikutip pohonpoker.com,kamis (27/1/2014). Kini Ameltshaye berusia 28 tahun.

Kala itu, Ameltsahye sedang bermain bersama dengan semua teman-temannya. Kemudian sang ibu memanggil dan mengatakan bahwa dirinya harus segera menikah. Bak disambar petir siang bolong, Ameltsahye pun langsung sedih bukan main.

Masa kecil Ameltsahye yang sangat membahagiakan pun hancur. Alemtsahye kecil yang awalnya telah menghabiskan waktu untuk bermain bersama teman-teman. Setelah menikah, dia harus meninggalkan rumah orangtuanya, berhenti sekolah dan mulai menjalani hidup sebagai seorang istri. Setiap hari, dia harus mengambil air, mengumpulkan kayu, dan memasak untuk suaminya.

Letak sumber airnya sangat jauh dari rumah. Aku harus berjalan jauh, lalu kembali ke rumah. Kemudian aku akan memasak untuk suamiku,urainy sambil menangis.

Sekitar 3 tahun kemudian, Alemtsahye yang masih bocah melahirkan anak laki-laki. dan dia mengingat saat-saat kehamilan dan melahirkan sebagai saat yang paling menyakitkan. Hal itu diperburuk dengan kondisi fisiknya yang tak kuat membawa beban si jabang bayi.

Saat aku hamil, itu sangat menyakitkan sekali dan aku menangis. Saat melahirkan pun begitu menyakitkan karena aku juga masih anak-anak,tutur Alemtsahye yang sewaktu melahirkan berusia 16 tahun.

Menjadi seorang ibu pada usia yang sangat begitu muda ternyata lebih sulit dibanding saat mengandung. Begitulah setidaknya menurut Alemtsahye. Apalagi suaminya yang saat itu berusia 20 tahun, dipaksa ikut berperang bersama para pemberontak Ethiopia untuk melawan kediktatoran pemimpin Ethiopia kala itu, Mengistu Haile Mariam. Nahasnya, sang suami tewas.

Aku menjadi seorang janda pada usia 16 tahun. Dia meninggalkanku begitu cepat untuk berperang dengan anak yang baru berusia 1 tahun. Itu sangat berat. Sangat sulit untukku ditinggal sendiri dengan seorang anak, padahal aku juga masih anak-anak," keluhnya.

Hidup hanya berdua saja dengan putranya yang masih kecil, membuat Alemtsahye rapuh. Ia terjerat 'jaring' para pelaku perdagangan manusia. dan dia diiming-imingi dengan kehidupan di luar negeri yang jauh lebih baik. Tak memakan waktu lama, Alemtsahye pun segera menitipkan anaknya itu dengan, Tefsalen kepada orangtuanya untuk pergi ke Mesir.

Alih-alih mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, Alemtsahye malah dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Malah, gajinya tak dibayar selama 3 bulan.

Setelah sudah merasakan betapa sulitnya hidup bekerja sebagai PRT, Alemtsahye pun berniat melakukan pekerjaan lainnya. Ternyata di Mesir banyak aksi perdagangan manusia. dia pun kembali tergiur dengan tawaran untuk memulai hidup baru dengan bekerja di Inggris.

Mereka bilang kamu akan saya ajak untuk bekerja dengan kami di Inggris, tetapi mereka malah meninggalkanku,cerita Alemtsahye sembari mengingat dirinya diajak orang Arab ke Inggris ketika itu.

Sesampainya di London, Alemtsahye kebingungan. Ia tak mengenal siapapun di negeri itu. Namun akhirnya ia diangkat oleh sebuah keluarga yang baik hati. Semenjak itu, janda muda yang masih mudah sekali berusia 16 tahun itu menjadi pencari suaka. Ia lalu kembali bersekolah dan belajar bahasa Inggris.

Sekarang, pada usianya yang ke-38 tahun, Alemtsahye tinggal di London dan bekerja di sebuah badan amal Girls Not Brides. Sebuah lembaga yang bertujuan membantu janda-janda muda dari Ehiopia seperti dirinya.

Meski sudah hidup lebih baik, Alemtsahye mengaku masih menyimpan luka mendalam atas perlakuan kedua orangtuanya. Ia menganggap orangtuanya telah menghancurkan hidupnya.

Berbekal pengalaman yang sangat pahit itu, Alemtsahye pun menasihati anaknya yang sekarang berusia 25 tahun agar tak jatuh di lubang yang sama dengan dirinya. Wanita itu sesekali ke kampung halamannya, Addis Ababa, Ethiopia, untuk menemui putranya yang tinggal bersama kakek dan neneknya.

Aku bilang kepadanya jangan pernah berpikir untuk menikah muda. Aku ingin anakku menjadi orang yang berpendidikan. Aku juga bilang 'lihatlah aku, ibumu, lihatlah segala hal yang menghancurkanku'. Sekarang dia bekerja sebagai tukang kayu. Aku sangat bangga padanya," tuturnya.

Aku sedang berpikir bagaimana cara membawanya untuk hidup denganku (di London), tapi aku tidak bisa mengajaknya. Karena dia sudah berumur 20-an. Aku telah mencobanya 2013 lalu, dan mereka (orangtuaku) tak memperbolehkannya," tutur Alemtsahye.

Rasa khawatir yang semua sudah dipikirkan dari atas perkawinan dini yang bisa menimpa sang putra juga sempat mengganggu pikiran Alemtsahye. Namun jika itu terjadi, dia akan melakukan segala cara untuk menghentikan pernikahan itu.

Meski tidak senang sama sekali untuk  dinikahkan, Alemtsahye mengaku sedih kehilangan suaminya. "Aku sedih karena dia tak bisa menikmati hidup. Hidupnya hanya sebentar, berakhir di medan perang. Aku menangis setiap kali melihat putraku," ucap Alemtsahye.

Berdasarkan data World Health Organisation (WHO), setiap tahun, ada 14,2 juta anak perempuan di bawah 15 tahun yang dipaksa menikah. Kebanyakan dari mereka yang berasal dari India, Timur Tengah, Nigeria, Chad, Republik Afrika Tengah.

Akibat yang ditimbulkan dari pernikahan tersebut sangatlah buruk. Tak hanya kehilangan pendidikan dan masa kecil, anak-anak perempuan juga mengalami trauma dan terancam menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Kesempatan dari mereka untuk bisa  berkarir dan memiliki kehidupan yang lebih baik pun terenggut.

Yang lebih buruk, banyak dari anak-anak berusia di antara 12-18 tahun meninggal saat melahirkan atau akibat dari komplikasi yang diderita saat hamil.

Pernikahan bagi anak mereka adalah salah satu pelanggaran berat hak asasi manusia. Itu juga bisa dibilang sudah merampas semua pendidikan, kesehatan, dan masa depan para gadis," ujar Babatunde Osotimehin, Direktur Eksekutif United Nation Population.AGEN SAKONG
Paling Aneh

Paling Aneh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.